Jakarta - Hilirisasi hasil penelitian merupakan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing industri kesehatan nasional. Namun, transformasi inovasi menjadi produk yang siap dimanfaatkan masyarakat memerlukan kesiapan menyeluruh, mulai dari fasilitas produksi, sistem manajemen mutu, tata kelola organisasi, hingga pemenuhan persyaratan regulatori.
Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung hilirisasi, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Jakarta bersama Fakultas Farmasi Universitas Pancasila menyelenggarakan Progress Meeting pengembangan Teaching Factory pada 31 Juli 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BBPOM di Jakarta beserta jajaran dan Dekan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila bersama tim pengembang Teaching Factory sebagai bagian dari program pendampingan berkelanjutan menuju hilirisasi produk obat tradisional.
Pertemuan difokuskan pada evaluasi kesiapan Teaching Factory, meliputi dokumentasi, sistem manajemen mutu, kesiapan fasilitas produksi, penetapan person in charge (PIC), analisis kelayakan bisnis, serta site visit untuk meninjau kesiapan bangunan dan implementasi sistem sesuai prinsip Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Dian Ratih menyampaikan “Pengembangan Teaching Factory tidak hanya berorientasi pada penyediaan fasilitas produksi, tetapi juga pada pembangunan sistem yang menjamin keberlanjutan operasional.” Beliau menekankan pentingnya manajemen risiko dan model bisnis yang berkelanjutan sebagai fondasi hilirisasi hasil penelitian di bidang obat tradisional.
Sementara itu, Kepala BBPOM di Jakarta, Jeffeta Pradeko Putra menegaskan “Proses hilirisasi memerlukan komitmen dan pendampingan yang konsisten hingga terpenuhinya persyaratan menuju izin produksi dan izin edar”. Sebagai bentuk pengawalan, BBPOM di Jakarta secara rutin melaksanakan monitoring bulanan untuk mengevaluasi perkembangan dan mengidentifikasi langkah perbaikan yang diperlukan.
Sebagai output, kedua belah pihak sepakat mengakselerasi program pendampingan melalui penguatan koordinasi, penyempurnaan dokumentasi, sistem manajemen mutu, serta analisis kelayakan bisnis sebagai fondasi pengembangan Teaching Factory hingga terpenuhinya persyaratan menuju proses perolehan izin produksi dan izin edar. Adapun outcome yang diharapkan adalah meningkatnya kesiapan Teaching Factory dalam mendukung hilirisasi hasil penelitian menjadi produk obat tradisional yang memenuhi persyaratan regulatori dan siap dimanfaatkan oleh masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model sinergi antara regulator dan perguruan tinggi dalam memperkuat ekosistem hilirisasi inovasi nasional. (PEM-GN).