Cegah Resistensi Antimikroba, BBPOM Jakarta Ajak Masyarakat Gunakan Obat dengan Tepat

27-08-2026 Balai Besar/Balai POM Dilihat 208 kali

Jakarta — Sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait penggunaan antimikroba, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Jakarta kembali menyelenggarakan KIE daring Selayar Jakarta – Sosialisasi Edukasi melalui Layar untuk Masyarakat Jakarta Batch 19 dengan tema “Resistensi Antimikroba: Bahaya Nyata, Saatnya Cegah Bersama”, pada Rabu (26/8/2026).

Kegiatan dibuka oleh Kepala BBPOM di Jakarta Jeffeta Pradeko Putra dan diikuti oleh 90 peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat, antara lain Dharma Wanita Persatuan (DWP), Tim Penggerak PKK, sekolah, pramuka dan organisasi masyarakat lainnya.

Resistensi antimikroba (AMR) adalah salah satu ancaman kesehatan masyarakat dan pembangunan global teratas. Menurut badan kesehatan dunia, kematian global akibat resistensi antimikroba diproyeksikan mencapai 10.000.000 jiwa/pertahun dan dapat mengakibatkan kerugian ekonomi global hingga sekitar $100 triliun pada tahun 2050. Karena itu Resistensi antimikroba ini disebut sebagai silent pandemic.

Pada sambutannya, Jeffeta Pradeko Putra menekankan bahwa resistensi antimikroba bukan hanya persoalan tenaga kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

“Resistensi antimikroba adalah bahaya nyata yang sering kali tidak kita sadari. Ketika obat yang seharusnya mampu mengatasi infeksi mulai kehilangan efektivitasnya, pilihan pengobatan menjadi semakin terbatas. Karena itu, pencegahan harus dimulai dari kesadaran kita untuk menggunakan antimikroba secara tepat dan bertanggung jawab.” jelasnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dengan menyebarluaskan informasi yang benar mengenai penggunaan antimikroba.

“Pencegahan resistensi antimikroba tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, sekolah, keluarga, dan generasi muda. Mari kita mulai dari langkah sederhana: gunakan obat sesuai aturan dan jangan menggunakan antimikroba secara sembarangan. Bahaya ini nyata, dan saatnya kita cegah bersama,” ujar Jeffeta.

Melalui KIE Daring Selayar Jakarta Batch 19, peserta diharapkan tidak hanya memahami bahaya resistensi antimikroba, tetapi juga mampu menerapkan perilaku penggunaan obat yang tepat dalam kehidupan sehari-hari serta menyampaikan kembali informasi tersebut kepada keluarga dan masyarakat.

Keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang menjadi wujud pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menghadapi ancaman penyebaran resistensi antimikroba. Setiap individu berperan untuk mencegah penggunaan antimikroba yang tidak tepat (misuse) dan berlebihan (overuse).

Melalui semangat “Bersama Kita Cegah Resistensi Antimikroba”, KIE Daring Selayar Jakarta kembali menegaskan komitmen BBPOM di Jakarta untuk menghadirkan edukasi yang mudah diakses dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Bijak menggunakan antimikroba hari ini, untuk kesehatan masa depan yang lebih baik. (INF-ED)

Sarana