BBPOM di Jakarta Kawal Teaching Factory dan Hilirisasi Riset Inovasi Obat dan Makanan di Universitas Indonesia

31-08-2026 Umum Dilihat 198 kali

Depok, 28 Agustus 2026 - Bagaimana memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi berkembang menjadi produk yang aman, bermutu, dan dibutuhkan masyarakat? Hal tersebut menjadi salah satu perspektif yang disampaikan Kepala Balai Besar POM di Jakarta dalam talk show hilirisasi produk obat dan makanan pada Workshop Kelompok Produk dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Inovasi Tahun 2026 di Hotel Margo, Depok, 27-28 Agustus 2026.

Mengusung tema “Collaboration for Sustainable Innovation Ecosystem”, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem inovasi dan mendorong hasil riset, termasuk inovasi Universitas Indonesia (UI), agar memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Kegiatan diikuti oleh 13 kelompok produk dan menghadirkan empat sesi talk show di bidang obat dan pangan fungsional, alat kesehatan, rekayasa keteknikan, serta sosial humaniora. Setiap sesi menghadirkan perspektif peneliti, mitra, dan regulator untuk membahas pengembangan dan hilirisasi inovasi.

Membawa perspektif regulator, Kepala BBPOM di Jakarta, Jeffeta Pradeko, S.Farm., M.Si., memperkenalkan  inovasi GROW BPOM (Green Research and Opportunities With BPOM) Powered by ABG (Academia Bussines Government) yang merupakan konsep hilirisasi Prof Taruna Ikrar, Phd. GROR BPOM Powered by ABG merupakan Hilirisasi Inovasi Penelitian Untuk Mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Berdaya Saing di Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang. Dalam paparannya Jeffeta menekankan pentingnya pemahaman regulasi dan kebutuhan pasar sejak awal pengembangan. Pemahaman regulasi sejak tahap awal pengembangan dinilai penting untuk membantu peneliti dan inovator mengarahkan pengembangan produk sesuai aspek keamanan dan mutu serta memahami jalur regulatori yang perlu ditempuh dalam proses hilirisasi.

“Melalui skema ABG, Standarisasi zat penemuan baru, Izin produksi Teaching Factory dan izin edar vaksin, dan pangan keperluan gizi khusus yang diriset peneliti UI dapat dihilirisasi lebih cepat, murah dan efektif” ungkapnya.

Melalui sinergi antara akademisi, regulator, industri, dan pemangku kepentingan lainnya, hilirisasi diharapkan mampu membawa inovasi dari laboratorium menuju masyarakat, sekaligus menciptakan dampak nyata bagi Indonesia.

Rangkaian kegiatan juga mencakup penandatanganan PKS antara peneliti dan mitra industri, dengan kurang lebih 63 PKS yang akan ditandatangani. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat ekosistem inovasi sekaligus mempercepat perjalanan hasil riset dari laboratorium menuju produk yang aman, bermutu, relevan, dan berkelanjutan. (PEM-GN).

Sarana